Dolar Tembus Rp18 Ribu, Perajin Tempe di Cimahi Pilih Kecilkan Ukuran Produk
Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus angka Rp18 ribu memberikan dampak signifikan bagi para perajin tempe di Cimahi. Untuk bertahan di tengah lonjakan biaya produksi, mereka mengambil langkah strategis dengan memperkecil ukuran produk tempe yang dijual.
Dampak Kenaikan Dolar terhadap Bahan Baku
Para perajin tempe mengeluhkan bahwa harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama terus meroket seiring penguatan dolar. Akibatnya, margin keuntungan mereka semakin tipis, sehingga diperlukan penyesuaian agar usaha tetap berjalan.
Langkah Adaptasi Perajin Tempe
Beberapa perajin di Cimahi memilih untuk mengurangi ukuran tempe dari biasanya, tanpa menaikkan harga jual secara signifikan. Langkah ini diambil agar konsumen tetap mampu membeli, meskipun daya beli masyarakat juga terdampak oleh kondisi ekonomi.
- Ukuran tempe diperkecil sekitar 10-20 persen dari ukuran standar.
- Harga jual dipertahankan atau dinaikkan sedikit untuk menutupi biaya.
- Sebagian perajin mulai mencari alternatif bahan baku lokal yang lebih terjangkau.
Meskipun demikian, perajin berharap pemerintah dapat segera mengambil kebijakan untuk menstabilkan harga kedelai, agar industri tempe rumahan tetap bisa bertahan dan tidak gulung tikar.
