Politik Sebagai Ibadah, Bukan Sarana Mencari Kekayaan: Pesan Wamenko Polkam di KUII 2026
Dalam perhelatan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) 2026, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi berpolitik. Menurutnya, politik pada hakikatnya merupakan bentuk ibadah, bukanlah jalan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.
Meneguhkan Kembali Makna Politik
Pernyataan ini mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya umat Islam, untuk merenungkan kembali tujuan utama dari aktivitas politik. Politik harus dimaknai sebagai pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara, yang diniatkan sebagai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran, amanah, dan keadilan harus menjadi landasan utama dalam setiap langkah politik.
Politik Bukan Komoditas
Wamenko Polkam dengan tegas mengingatkan bahwa politik bukanlah komoditas atau lahan bisnis yang dapat diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Pandangan ini menjadi kritik terhadap praktik politik pragmatis yang kerap kali mengabaikan moral dan etika. Beliau menekankan bahwa kekayaan materi bukanlah tujuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Pesan untuk Para Pemimpin dan Kader Bangsa
Pesan ini ditujukan tidak hanya kepada para pemimpin, tetapi juga kepada seluruh kader bangsa yang terjun ke dunia politik. Mereka diharapkan mampu menjadi teladan dengan menjadikan politik sebagai sarana untuk menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat. Dengan menjadikan politik sebagai ibadah, maka setiap kebijakan yang diambil akan senantiasa berpihak pada kepentingan rakyat dan nilai-nilai kebenaran.
- Politik sebagai ibadah berarti mengedepankan keikhlasan dan tanggung jawab moral.
- Menghindari segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.
- Menggunakan kekuasaan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Semangat inilah yang diharapkan dapat terus digelorakan dalam setiap momentum kebangsaan, termasuk dalam forum-forum seperti KUII 2026. Dengan pemahaman yang benar, politik akan kembali pada relnya yang luhur, yaitu sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama.
