August 12, 2026

Keluhan Sopir Angkot di Serang: Sepi Penumpang, Pajak Tak Terbayar

Keluhan Sopir Angkot di Serang: Sepi Penumpang, Pajak Tak Terbayar

Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) di Serang, Banten, mengungkapkan keluhan mereka terkait sepinya penumpang yang berakibat pada ketidakmampuan membayar pajak kendaraan. Para pengemudi angkot ini mengaku pendapatan mereka menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi Sepi Penumpang

Para sopir angkot di Serang saat ini menghadapi situasi yang sulit. Jumlah penumpang yang menurun drastis membuat pendapatan mereka tidak menentu. Banyak sopir yang mengaku hanya mendapatkan beberapa penumpang dalam sehari, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapat penumpang.

“Sekarang sepi sekali. Kadang dapat satu atau dua penumpang saja sehari. Itu pun jarang,” ujar seorang sopir angkot di Serang.

Dampak pada Pembayaran Pajak

Penurunan pendapatan ini berdampak langsung pada kemampuan para sopir untuk membayar pajak kendaraan. Banyak dari mereka yang mengaku tidak memiliki uang untuk membayar pajak tahunan angkot yang mereka kemudikan.

“Nggak ada uang bayar pajak. Pendapatan saja pas-pasan, mana bisa bayar pajak,” keluh sopir lainnya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan sopir angkot. Mereka khawatir jika tidak segera membayar pajak, kendaraan mereka bisa terkena sanksi tilang atau bahkan diblokir.

Faktor Penyebab

Beberapa faktor disebut-sebut menjadi penyebab sepinya penumpang angkot di Serang. Di antaranya adalah:

  • Maraknya penggunaan transportasi online yang lebih praktis dan murah.
  • Kurangnya minat masyarakat menggunakan angkot karena kondisi kendaraan yang kurang terawat.
  • Persaingan dengan moda transportasi lain seperti ojek dan becak motor.

Para sopir angkot berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu mengatasi masalah ini. Mereka menginginkan adanya solusi yang dapat meningkatkan jumlah penumpang dan meringankan beban biaya operasional, termasuk pajak kendaraan.

Situasi ini menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi oleh para pengemudi angkutan umum di daerah, yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi bagi masyarakat.