August 18, 2026

Forest City: Dari Kota Hantu Menjadi Pusat Sindikat Penipuan

Forest City: Dari Kota Hantu Menjadi Pusat Sindikat Penipuan

Transformasi Forest City: Dari Proyek Ambisius ke Sarang Kejahatan

Forest City, yang pernah dijuluki sebagai ‘kota hantu’ karena sepinya penghuni, kini justru menjadi perhatian publik karena berubah menjadi pusat aktivitas sindikat penipuan. Proyek megah yang terletak di Johor, Malaysia, ini awalnya dirancang sebagai kota mandiri dengan hunian mewah dan fasilitas kelas dunia. Namun, kenyataan pahitnya, kawasan tersebut kini identik dengan praktik ilegal.

Sejarah Singkat Forest City

Dikembangkan oleh Country Garden Holdings, sebuah perusahaan properti asal Tiongkok, Forest City dibangun di atas lahan reklamasi seluas sekitar 1.386 hektar. Proyek ini digadang-gadang menjadi ikon baru perbatasan Malaysia-Singapura. Namun, sejak awal peluncurannya, proyek ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah lingkungan hingga regulasi yang ketat.

Julukan ‘Kota Hantu’

Sejak selesai dibangun, Forest City kesulitan menarik minat pembeli. Tingkat hunian yang sangat rendah membuat kawasan ini tampak kosong dan sunyi, sehingga media menjulukinya sebagai ‘kota hantu’. Banyak unit apartemen yang belum terjual, dan infrastruktur yang dibangun tampak sia-sia. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pemerintah Malaysia yang sempat membatasi kepemilikan asing, terutama dari warga Tiongkok yang menjadi target pasar utama.

Perubahan Fungsi: Sarang Sindikat Penipuan

Kini, Forest City kembali menjadi sorotan, tetapi bukan karena kemegahannya. Kawasan ini dilaporkan telah menjadi markas bagi sindikat penipuan internasional. Banyak laporan yang menyebutkan bahwa gedung-gedung kosong di Forest City kini digunakan sebagai pusat operasi penipuan daring, seperti penipuan investasi, pinjaman online ilegal, hingga judi online. Para pelaku biasanya merekrut tenaga kerja asing untuk menjalankan aksi mereka.

Respons Otoritas dan Masa Depan Forest City

Pihak berwenang Malaysia telah meningkatkan pengawasan dan melakukan penggerebekan di beberapa lokasi di Forest City. Penegakan hukum ini diharapkan mampu membersihkan kawasan tersebut dari aktivitas ilegal. Sementara itu, pemerintah setempat juga berupaya menghidupkan kembali Forest City dengan berbagai insentif, seperti menjadikannya pusat pariwisata atau kawasan ekonomi khusus. Namun, tantangan besar masih menghadang, terutama dalam mengubah citra negatif yang telah melekat.

Forest City adalah contoh nyata bagaimana sebuah proyek besar yang gagal menarik penghuni dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Meski demikian, upaya rehabilitasi terus dilakukan dengan harapan kawasan ini dapat kembali menjadi ikon kebanggaan, bukan sarang kejahatan.