August 26, 2026

Daftar Penyakit yang Sering Dilaporkan Setelah Gempa NTT: Waspada ISPA hingga Diare

Daftar Penyakit yang Sering Dilaporkan Setelah Gempa NTT: Waspada ISPA hingga Diare

Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu berbagai masalah kesehatan. Menurut infografis yang dirilis oleh detikHealth, sejumlah penyakit dilaporkan banyak diderita oleh para korban selamat dalam periode pascagempa. Berikut adalah daftar penyakit yang perlu diwaspadai serta langkah-langkah pencegahannya.

Penyakit yang Sering Muncul Pasca-Gempa

Kondisi lingkungan yang rusak, terbatasnya akses air bersih, serta kepadatan di lokasi pengungsian menjadi faktor utama penyebaran penyakit. Infografis tersebut mencatat beberapa jenis penyakit yang dominan dilaporkan, antara lain:

  • ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) – Debu yang beterbangan dan ventilasi buruk di pengungsian membuat ISPA mudah menular, terutama pada anak-anak dan lansia.
  • Diare – Sanitasi yang terganggu dan sulitnya mendapatkan air bersih menyebabkan diare menjadi keluhan yang sangat umum.
  • Demam Berdarah Dengue (DBD) – Genangan air dari puing-puing atau hujan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, sehingga risiko DBD meningkat.
  • Leptospirosis – Penyakit ini ditularkan melalui urine tikus yang tercampur air banjir atau lumpur. Korban dengan luka terbuka sangat rentan terinfeksi.
  • Tetanus – Luka terbuka yang terkontaminasi tanah, debu, atau kotoran dapat menyebabkan tetanus jika tidak segera ditangani dengan benar.
  • Penyakit Kulit – Kurangnya kebersihan diri dan lingkungan yang lembap memicu infeksi kulit seperti jamur dan gatal-gatal.
  • Gangguan Kesehatan Mental – Stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, dan depresi juga banyak dialami oleh para penyintas, terutama mereka yang kehilangan keluarga atau tempat tinggal.

Langkah Pencegahan yang Disarankan

Untuk mengurangi risiko penyakit pascagempa, penting bagi para pengungsi dan petugas kesehatan untuk melakukan beberapa tindakan berikut:

  • Menjaga kebersihan lingkungan dan diri, termasuk mencuci tangan dengan sabun.
  • Menggunakan air bersih yang aman atau merebus air sebelum diminum.
  • Membersihkan genangan air untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
  • Menutup luka dengan plester atau perban steril.
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala seperti demam, batuk berkepanjangan, atau diare.
  • Memberikan dukungan psikososial bagi penyintas untuk membantu pemulihan mental.

Dengan kewaspadaan dan tindakan cepat, risiko penyebaran penyakit setelah gempa dapat ditekan. Semoga informasi ini bermanfaat dan membantu para korban serta relawan di lapangan.