Kisah Mbah Rabikem, 40 Tahun Setia Melestarikan Jenang Upih Khas Sleman
Di tengah gempuran kuliner modern, masih ada sosok yang setia menjaga warisan leluhur. Mbah Rabikem, seorang perempuan lanjut usia asal Sleman, telah mengabdikan dirinya selama 40 tahun untuk merawat dan melestarikan kuliner tradisional khas daerah, yaitu jenang upih.
Perjalanan Panjang Mbah Rabikem
Sejak empat dekade lalu, Mbah Rabikem konsisten membuat dan menjual jenang upih. Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan panggilan untuk menjaga tradisi kuliner yang mulai langka. Setiap hari, ia memulai proses pembuatan jenang dengan bahan-bahan alami dan resep warisan turun-temurun.
Keunikan Jenang Upih
Berbeda dengan jenang pada umumnya, jenang upih memiliki ciri khas tersendiri. Proses pembuatannya masih menggunakan cara tradisional, termasuk penggunaan upih atau pelepah pisang sebagai pembungkus. Hal ini memberikan aroma dan rasa yang khas, serta nilai estetika tersendiri.
- Menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet
- Dibungkus dengan upih (pelepah pisang) yang ramah lingkungan
- Rasa manis gurih yang autentik
- Proses pembuatan manual dengan peralatan sederhana
Dedikasi Tanpa Pamrih
Selama 40 tahun, Mbah Rabikem tidak pernah mengeluh. Ia bangga bisa terus menyajikan jenang upih kepada masyarakat, terutama generasi muda agar mereka tetap mengenal kuliner tradisional. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, semangatnya untuk melestarikan budaya lokal tidak pernah padam.
Kisah Mbah Rabikem menjadi inspirasi tentang pentingnya menjaga warisan kuliner nusantara. Di tengah arus modernisasi, masih ada orang-orang seperti beliau yang rela menghabiskan waktu dan tenaga demi kelestarian tradisi.
