July 25, 2026

Merek Mobil Jepang dan Gaikindo Dituding Hambat Percepatan Mobil Listrik di Indonesia

Sejumlah pihak mulai menyoroti peran merek-merek otomotif asal Jepang serta Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam perkembangan kendaraan listrik (EV) di Tanah Air. Mereka dituding menjadi salah satu faktor yang memperlambat transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan.

Kritik terhadap Dominasi Pasar

Dominasi pabrikan Jepang di pasar otomotif Indonesia dinilai membuat mereka enggan berinvestasi besar-besaran dalam riset dan produksi mobil listrik. Alih-alih mempercepat adopsi EV, mereka just dinilai lebih fokus mempertahankan penjualan mobil konvensional yang masih menguntungkan.

Peran Gaikindo Dipertanyakan

Gaikindo sebagai asosiasi yang menaungi industri otomotif nasional juga tak luput dari kritik. Organisasi ini dituding kurang agresif dalam mendorong kebijakan yang mendukung percepatan elektrifikasi. Bekalangan menganggap Gaikindo lebih berpihak pada kepentingan produsen mobil konvensional ketimbang membuka jalan bagi pemain baru di sektor EV.

Dampak pada Target Nasional

Lambannya transisi EV ini dikhawatirkan akan menghambat target pemerintah Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060. Tanpa dorongan kuat dari seluruh pemangku kepentingan, adopsi kendaraan listrik di Indonesia diperkirakan akan berjalan lebih lambat dari negara tetangga.

  • Produsen Jepang dinilai kurang transparan dalam rencana elektrifikasi mereka di Indonesia.
  • Kebijakan insentif EV dianggap belum cukup menarik bagi konsumen maupun produsen.
  • Infrastruktur pengisian daya listrik yang terbatas juga menjadi kendala utama.

Meski demikian, beberapa pabrikan Jepang mulai menunjukkan komitmen dengan meluncurkan model hybrid dan beberapa model EV murni. Namun, langkah tersebut dinilai masih terlalu lambat dibandingkan dengan pesaing dari Korea Selatan dan China yang lebih agresif memasarkan mobil listrik di Indonesia.