UGM Luncurkan Rumah Skrining dan Radiografi Keliling untuk Percepat Eliminasi Tuberkulosis
Dalam upaya mendukung program eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi berupa rumah skrining dan layanan radiografi keliling. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap deteksi dini TB, terutama di daerah yang selama ini sulit dijangkau fasilitas kesehatan.
Mengapa Eliminasi TB Menjadi Prioritas?
Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian serius di Indonesia. Meskipun angka kesembuhan terus meningkat, masih banyak kasus yang belum terdeteksi, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur kesehatan. Pemerintah menargetkan eliminasi TB pada tahun 2030, dan untuk mencapai target tersebut diperlukan inovasi yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Rumah Skrining: Deteksi Dini Lebih Dekat dengan Masyarakat
Rumah skrining yang dikembangkan oleh dosen UGM merupakan sebuah fasilitas yang dirancang untuk melakukan pemeriksaan awal TB secara cepat dan mudah. Tempat ini dilengkapi dengan peralatan medis yang memadai serta tenaga kesehatan yang terlatih. Masyarakat dapat datang langsung untuk melakukan skrining tanpa harus mengantre lama di rumah sakit atau puskesmas. Dengan adanya rumah skrining, diharapkan kasus TB dapat ditemukan lebih awal, sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan penularan dapat dicegah.
Layanan Radiografi Keliling: Menjangkau Wilayah Terpencil
Selain rumah skrining, dosen UGM juga menghadirkan layanan radiografi keliling. Layanan ini menggunakan kendaraan yang dilengkapi dengan alat rontgen (X-ray) portabel, sehingga dapat bergerak dari satu desa ke desa lain, bahkan ke daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas radiologi. Dengan cara ini, pemeriksaan paru-paru untuk mendiagnosis TB dapat dilakukan secara langsung di lokasi, tanpa mengharuskan pasien menempuh perjalanan jauh ke kota.
Sinergi untuk Masa Depan Bebas TB
Inovasi ini merupakan contoh nyata kontribusi akademisi dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Dengan menggabungkan teknologi dan pendekatan sosial, upaya eliminasi TB menjadi lebih realistis. Dosen UGM berharap inovasi ini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah maupun lembaga lain, sehingga cakupan skrining dan diagnosis TB semakin luas. Dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, sangat diperlukan untuk mewujudkan Indonesia bebas TB.
Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa universitas tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif dalam pengabdian masyarakat yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup.
