August 20, 2026

Kemhan Buka Suara: Ini Alasan di Balik Rencana Penjualan KRI Ki Hajar Dewantara

Kementerian Pertahanan (Kemhan) akhirnya angkat bicara mengenai rencana pemerintah untuk menjual kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara. Keputusan ini menimbulkan tanda tanya di kalangan publik, terutama karena kapal tersebut memiliki nilai historis yang tinggi bagi TNI Angkatan Laut.

Alasan Strategis di Balik Penjualan

Juru bicara Kemhan, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa penjualan kapal ini merupakan bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL. Kapal yang sudah berusia lebih dari empat dekade ini dinilai tidak lagi sejalan dengan kebutuhan operasional angkatan laut di masa mendatang.

Lebih lanjut, Kemhan menegaskan bahwa keputusan ini telah melalui kajian yang mendalam terhadap aspek teknis, anggaran, dan strategi pertahanan. Dana hasil penjualan nantinya akan dialokasikan untuk pengadaan alutsista baru yang lebih canggih dan sesuai dengan kebutuhan pertahanan saat ini.

Proses Penjualan yang Transparan

Kemhan memastikan bahwa proses penjualan akan dilakukan secara transparan dan akuntabel, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pihaknya juga akan melibatkan lembaga terkait, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam proses tersebut.

Nilai Historis KRI Ki Hajar Dewantara

KRI Ki Hajar Dewantara sendiri merupakan kapal latih yang diresmikan pada tahun 1980. Kapal ini telah menjadi saksi bisu dalam mendidik ribuan calon perwira TNI AL. Selain itu, kapal ini juga kerap digunakan dalam berbagai misi diplomasi dan latihan bersama dengan negara-negara sahabat.

Meskipun bernilai historis, Kemhan menegaskan bahwa aspek operasional dan kesiapan tempur tetap menjadi prioritas utama. Kapal yang sudah tua akan semakin mahal biaya perawatannya dan kurang efisien dalam mendukung tugas-tugas pertahanan.

Respons Publik dan Pengamat

Rencana penjualan ini pun menuai beragam respons dari para pengamat militer. Sebagian menyayangkan langkah tersebut karena nilai historisnya, namun sebagian lainnya mendukung karena dianggap sebagai langkah maju untuk memperkuat alutsista TNI AL.

Kemhan berharap publik dapat memahami bahwa keputusan ini diambil demi kepentingan pertahanan negara yang lebih besar. Pihaknya juga berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan DPR dan seluruh pemangku kepentingan dalam setiap proses pengadaan dan penghapusan alutsista.