Gus Kikin Tegaskan NU Dibangun di Atas Nilai, Bukan Kekuasaan
Jakarta – Dalam sebuah forum Halaqah Kebangsaan yang digelar di kompleks MPR RI, KH. Abdul Ghofarrozin atau yang akrab disapa Gus Kikin menyampaikan pesan mendalam mengenai hakikat berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Ia menegaskan bahwa sejak awal, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini didirikan dan dibangun di atas fondasi nilai-nilai luhur, bukan untuk mengejar kekuasaan.
NU: Organisasi Berbasis Nilai, Bukan Ambisi Politik
Menurut Gus Kikin, pemahaman yang keliru tentang NU sebagai entitas politik harus segera diluruskan. Ia menekankan bahwa para pendiri NU, termasuk para ulama pendahulu, memiliki visi yang jelas untuk menjaga dan menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Kekuasaan, bagi mereka, hanyalah alat untuk mencapai kemaslahatan umat, bukan tujuan utama.
“NU sejak awal dibangun oleh nilai-nilai, bukan oleh kekuasaan. Ini adalah warisan para masyayikh yang harus kita jaga bersama,” ujar Gus Kikin di hadapan para peserta halaqah.
Pesan untuk Kader dan Simpatisan NU
Gus Kikin juga mengingatkan para kader dan simpatisan NU agar tidak terjebak dalam pragmatisme politik yang dapat menggerus nilai-nilai dasar organisasi. Ia mengajak semua pihak untuk kembali merujuk pada khittah NU, yaitu kembali ke rel perjuangan yang telah digariskan oleh para pendiri.
- Menjaga ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah.
- Tidak menjadikan NU sebagai alat kekuasaan politik praktis.
- Mengedepankan kemaslahatan umat di atas kepentingan golongan.
Pernyataan tegas Gus Kikin ini mendapat sambutan hangat dari para peserta halaqah. Mereka sepakat bahwa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan harus tetap menjadi pedoman utama dalam setiap langkah organisasi, terutama di era politik yang semakin dinamis.
Halaqah Kebangsaan di MPR RI ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran dan posisi NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Gus Kikin berharap, semangat awal berdirinya NU tetap lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
