Lis Darmansyah Gaungkan Kudapan Melayu Sebagai Ikon Kuliner Andalan Tanjungpinang
Lis Darmansyah, tokoh masyarakat yang peduli terhadap pelestarian budaya lokal, kembali menyuarakan pentingnya mengangkat kudapan khas Melayu sebagai ikon kuliner sekaligus produk unggulan Kota Tanjungpinang. Menurutnya, potensi besar dari jajanan tradisional ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian daerah dan pariwisata.
Potensi Kudapan Melayu yang Belum Tergarap Maksimal
Dalam berbagai kesempatan, Lis Darmansyah menekankan bahwa Tanjungpinang memiliki kekayaan kuliner warisan Melayu yang sangat beragam. Mulai dari kue lapis, wajik, lepat, hingga aneka gorengan tradisional, semuanya memiliki cita rasa khas dan nilai historis yang tinggi. Sayangnya, keberadaan kudapan ini mulai tergerus oleh makanan modern dan kurang mendapat perhatian dari para pelaku usaha maupun pemerintah daerah.
“Kudapan Melayu bukan sekadar camilan, tetapi juga identitas budaya kita. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi daya tarik wisata dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” ujar Lis dalam sebuah diskusi tentang pengembangan produk lokal.
Langkah Strategis Menuju Ikon Kuliner
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Lis Darmansyah mengusulkan sejumlah langkah strategis:
- Revitalisasi Resep Tradisional: Menggali kembali resep-resep kuno yang hampir punah dan menyesuaikannya dengan selera kekinian tanpa menghilangkan ciri khas Melayu.
- Pelatihan bagi UMKM: Memberikan pelatihan tentang teknik produksi, pengemasan, serta higienitas kepada para pengrajin kudapan agar produk mereka lebih kompetitif di pasar modern.
- Branding dan Promosi: Mendorong pemerintah daerah dan pelaku industri kreatif untuk mengkampanyekan kudapan Melayu melalui event kuliner, media sosial, dan kemasan yang menarik.
- Integrasi dengan Sektor Pariwisata: Menjadikan kudapan Melayu sebagai oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang, sehingga secara tidak langsung mempromosikan budaya Melayu.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Gagasan Lis Darmansyah ini mendapat sambutan positif dari sejumlah komunitas pecinta kuliner dan pelaku UMKM di Tanjungpinang. Mereka berharap pemerintah kota dapat merumuskan kebijakan yang konkret, seperti penyediaan sentra kuliner khusus kudapan Melayu, bantuan peralatan produksi, serta kemudahan akses permodalan bagi para pengusaha kecil.
“Kami sangat setuju. Selama ini kudapan Melayu hanya dikenal di kalangan tertentu. Dengan ada dorongan seperti ini, kami optimis produk kami bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujar Siti, seorang pengusaha kue tradisional di Pasar Baru Tanjungpinang.
Harapan ke Depan
Lis Darmansyah berharap upaya ini tidak berhenti pada wacana saja. Ia mengajak semua elemen masyarakat, mulai dari akademisi, budayawan, hingga generasi muda, untuk turut serta melestarikan dan mengembangkan kudapan Melayu. “Mari kita jadikan kudapan Melayu bukan sekadar makanan, melainkan kebanggaan bersama yang mendunia,” pungkasnya.
