July 25, 2026

Menjadi Wartawan di Era Tekanan: Bayang-Bayang ‘Departemen Penerangan’ ala Prabowo

Menjadi Wartawan di Era Tekanan: Bayang-Bayang 'Departemen Penerangan' ala Prabowo

Dalam beberapa waktu terakhir, dunia jurnalistik Indonesia kembali dihadapkan pada tantangan berat. Sorotan tajam mengarah pada situasi yang dialami para wartawan yang bekerja di bawah tekanan, terutama yang berkaitan dengan apa yang disebut sebagai ‘Departemen Penerangan’ era pemerintahan Prabowo Subianto.

Tekanan yang Tak Terlihat

Banyak jurnalis melaporkan bahwa ruang gerak mereka semakin sempit. Ancaman, intimidasi, dan pembungkaman bukan lagi sekadar isu, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi sehari-hari. Fenomena ini mengingatkan kita pada praktik ‘Departemen Penerangan’ di masa lalu, di mana informasi dikontrol ketat oleh penguasa.

Bentuk-Bentuk Tekanan yang Dihadapi

  • Ancaman Hukum: Banyak wartawan yang diancam dengan undang-undang ITE atau pasal karet lainnya hanya karena menjalankan tugas jurnalistik.
  • Intimidasi Fisik dan Psikis: Laporan tentang pengusiran, pemukulan, hingga teror terhadap keluarga wartawan semakin sering terdengar.
  • Sensor Mandiri (Self-Censorship): Akibat tekanan yang terus-menerus, banyak redaksi memilih untuk tidak memberitakan isu-isu sensitif demi keselamatan.

Dampak bagi Demokrasi

Ketika pers tidak lagi bebas, masyarakatlah yang menjadi korban utama. Hak publik untuk mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang menjadi terancam. Tanpa adanya pengawasan yang ketat dari pers, praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bisa berjalan tanpa hambatan.

Perlawanan dan Solidaritas

Meskipun berada dalam tekanan, banyak wartawan dan organisasi pers yang tetap berjuang. Mereka terus menyuarakan pentingnya kebebasan pers dan menolak segala bentuk pembungkaman. Solidaritas dari berbagai elemen masyarakat juga menjadi angin segar bagi para jurnalis yang tertekan.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan pers harus terus diperjuangkan, bukan hanya oleh wartawan, tetapi oleh seluruh elemen bangsa. Tanpa pers yang bebas, sulit bagi kita untuk membangun demokrasi yang sehat dan berkeadilan.